Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

13 Juni 2015

4 Pelukan.... Bontang




Pertama kali aku menghirup udara Bontang aku belum mampu mengingatnya, karena menurut orangtuaku mereka pindah dari Samarinda setelah aku berumur sekitar satu bulan. Kepindahan mereka ke Bontang diawali dari kondisi ekonomi mereka saat aku masih di kandungan sangat memprihatinkan, sampai-sampai untuk menebusku di rumah sakit bapak harus jual rombong es punya adiknya. Kain yang untuk membungkuskupun dimintakan dari jarik milik pasien lain. Bapak hijrah ke bontang meninggalkan kakak dan mamak yang sedang mengandungku di Samarinda. Saat itu bapak melihat orang-orang yang jual jamu dan sol sepatu di Bontang hidupnya jauh lebih enak.

Kami mengontrak rumah di berbas. Bukan rumah dalam arti sebenarnya, namun sebuah bedengan kecil yang harus berbagi dengan beberapa keluarga lain. Rumah panggung dari kayu yang memanjang. Di dalamnya hanya ada sebuah dapur bersama dan ruang tamu kecil dan sisanya dibagi mejadi bedengan kamar. Jangan bayangkan ada kursi dan perabot rumah, inilah rumah “minimalis” yang sebenarnya. Tidak ada sumur dan wc. Yang ada wc umum di luar yang bisa dipakai satu RT. Air minum dan mandi dibeli dari penjual air keliling yang membawanya dengan grobak.

Pada awal tahun 80-an Berbas pantai adalah jantungnya kota Bontang saat itu. Pusat keramaian ada di sana. Pertokoan-pertokoan besar, pasar induk, dan tempat hiburan ada di Berbas Pantai. Di sinilah ibu harus membagi tugas dengan bapak antara berdesakan mencari uang dan mengasuh kami. Bapak “ngesol” sore saja. Karena paginya bapak bertugas menyiapkan jamu yang akan dijual ibu hari itu. Semakin lama jam kerja mamak semakin bertambah. Awalnya hanya jual jamu pagi sampai siang, namun karena semakin laris dan Berbas masih ramai sampai larut malam, maka mamak memutuskan keliling sampai malam. Keadaan ekonomi kamipun mulai membaik. Bapak mulai bisa mencicil hutang-hutangnya. Bapak juga bisa menyewa tanah untuk rumah kami.

Seiring semakin membaiknya perekonomian keluarga semakin sibuklah orangtua kami, terlebih mamak. Mamak sejak pagi sudah keliling menjajakan jamunya, siang pulang sebentar untuk makan siang kemudian balik lagi berjualan hingga larut malam. Mamak tidak sempat pulang karena jamunya diantarkan bapak ke Prakla. Prakla semain larut malam semakin ramai, karena di situlah pusat hiburan dan lokalisasi terbesar di Bontang saat itu. Kamipun semakin tidak terurus, sampai-sampai kakakku mandi minyak tanah hingga rambutnya rontok karena tidak ada yang mengawasi. Maka kami dipulangkan ke rumah nenek di Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Untuk kedua kalinya aku menginjakkan kaki di kota bontang. Aku sudah mulai bisa mengingat, karena tahun 1989 itu aku berumur 6 tahun. Namun saya tidak bisa mengingat persis kapan tanggalnya. Aku kembali ke bontang karena merengek minta disekolahkan TK. Saat itu saya sudah sering ikut kakak perempuanku sekolah SD di Jawa. Saya sering dengar dari teman-teman kakakku kalau sekolah di TK enak. Ada ayunannya, ada perosotannya, dan banyak mainan seru lainnya. Karena aku merengek terus dan tidak ada TK di daerah dekat rumah nenek, maka akupun di bawa ke Bontang. 

Semua bayangan tentang sekolah TK buyar saat aku diantar bapak ke salah satu TK yang paling dekat. Di sana tidak ada ayunan, tidak ada perosotan, tidak ada lapangan luas dengan rumput tebal. Yang ada hanya sebuah bangunan kayu di atas empang yang dibagi menjadi 3 sekat. Sekatnya bukanlah dinding kayu, namun sekat portable dari triplek. Jadi kami bisa berlarian bebas ke ruang sebelah maupun “kantor”. Bangunan itu ditopang oleh kayu-kayu ulin panjang yang diempeli banyak tiram. Bau anyir empang menusuk hidung. Namun seminggu setelahnya bau ini hilang, entahlah hilang karna hidungku yang sudah terbiasa atau memang benar-benar hilang. Yang kuingat aku sudah tidak terganggu lagi dengan bau itu. Jika laut sedang pasang, airnya hampir menyentuh lantai kelas. Kami sering bermain kapal-kapalan saat seperti itu. Untuk menuju sekolah ini kami harus melewati jalan kayu yang menurun curam, aku sering terpelest jika “jalannnya” basah karena hujan. Mainan kami adalah balok-balok kayu dari sisa-sisa pembangunan sekolah ini, atau kursi yang biasanya kami susun terbalik dan kami jadikan robot-robotan. Aku mulai terbiasa dengan semua keterbatasan itu. Aku tidak pernah merasakan TK nol kecil, karena usiaku yang sudah 6 tahun dan akupun juga sudah bisa membaca dan menulis, maka aku langsung diterima di kelas nol besar. Aku hanya enam bulan sekolah di sini. Karena aku mendaftar di awal semester kedua. 

Aku memiliki banyak teman dari lingkungan rumah kami. Rata-rata teman mainku lebih tua dariku, mereka sudah SD. Semua temanku bernasib sama denganku, sering ditinggal jualan orang tuanya. Aku sering main dengan mereka hingga larut malam tanpa takut dimarahi orang tua kami, karena merakapun masih sibuk jualan hingga larut malam. Hidup bebas di pusat keramain saat usia TK membuatku jadi “liar”. Aku sering berkelahi dan mengganggu orang, itu kami anggap permainan yang seru. Aku sering diadu dengan anak-anak pasar. Aku merasa bangga jika bisa membuat anak lain menangis. 

Karena lingkungan yang keras inilah mungkin yang menjadi alasan kedua orang tuaku memulangkanku kembali ke rumah nenek. Namun aku sangat senang karena diajak naik pesawat. Bagiku naik pesawat adalah sesuatu yang baru dan menyenangkan. Karena menurut cerita orang-orang yang pernah naik pesawat, mereka mendapat bermacam-macam souvenir, seperti payung, gantungan kunci pesawat, stiker, tisu wangi dan tentunya makan siang. 

Untuk ketiga kalinya aku kembali ke Bontang. Itupun terjadi secara tiba-tiba dan spontan. Aku tertarik ke bontang karena saat itu diberitakan di TV marchinband pupuk kaltim menjuarai granprix untuk kesekian kalinya. Dan mamak juga cerita mengenai STM Pupuk. Aku pikir jika marchinband itu adalah ekskul STM Pupuk, kalau ekskulnya saja sehebat itu, apalagi sekolahnya. Maka sepontan saya jawab mau daftar ke STM pupuk saat mamak menanyakan kemana saya melanjutkan sekolah setelah lulus SMP. 
Kelas 1 STM (1998)

Aku tidak menyangka perjalanan darat Balikpapan-Bontang sangat berat dengan pemandangan yang mengerikan. Di kanan-kiri hanya ada pemandangan hutan yang habis terbakar, bahkan masih ada yang mengepulkan asap. Saat itu memang sedang terjadi kemarau panjang yang menyebabkan kebakaran hutan yang hebat di pertengahan tahun 1998. Perjalanan ini tidak seperti yang aku bayangkan, karena dulu tahun 1989 perjalananku dari Bontang ke Balikpapan melalui laut, karena belum ada jalan darat dari bontang ke Samarinda. Perjalanan lewat laut bagiku sangat menyenangkan karena menyusuri pinggir hutan yang banyak monyetnya. Dari samarinda baru ke Balikpapan naik bis. 

Orangtuaku sudah memiliki rumah sendiri di Berbas Pantai, di Gang Solo. Disebut Gang Solo karena kebanyakan berisi orang-orang dari Solo, sekitar Solo lebih tepatnya. Di gang ini sebagian besar pedangang. Ada yang berjualan jamu, es tong-tong, es potong dan tukang sol sepatu. Dalam kesehariannya kami menggunakan bahasa jawa, maka tak heran anak-anak kecil di gang ini bisa bahasa jawa atau minimal mengerti. 

Lagi-lagi aku terkejut karena Berbas Pantai tidak seramai dulu. Sudah tidak ada lagi took-toko besar itu. Sudah tidak ada lagi lokalisasi di Prakla saat itu, namun masih ada sisa-sisanya. Seperti plang nama diskotik, bekas wisma dan beberapa mucikari yang memang tinggal di situ. Kabarnya lokalisasi ini ditutup oleh pemerintah dan dipindahkan ke kilo 24. Keterkejutanku tidak sampai di situ, teman-teman kecilku sudah “sukses” jadi preman yang keluar masuk penjara dengan berbagai tindak kejahatan. Tidak bisa membayangkan apa jadinya aku jika sembilan tahun sebelumnya aku tidak pindah ke Jawa. Mungkin aku akan lebih “sukses” dari mereka, karena dulu mereka sering kubuat menangis. 

Keterkejutanku ternyata masih berlanjut, STM Pupuk yang jadi incaranku ternyata bukanlah milik pupuk kaltim, tetapi satu-satunya sekolah kejuruan negeri di Bontang dengan tiga jurusan saat itu. Dan tidak memiliki ekskul marchineband. Yang lebih mengecewakannya lagi bangunan sekolah ini jorok minta ampun, lebih parah dari SD-ku di kampung. Sampah berserakan dimana-mana, kaca kelas kusam tidak pernah dibersihkan, dindingnya banyak cap sepatu berbagai ukuran dan merk. Jangan tanya WC-nya, aku lebih memilih menahan hajat-ku sampai pulang ke rumah. Tapi menurut cerita orang-orang di sekitarku sekolah ini termasuk sekolah unggulan. Siswanya datang dari berbagai kota sekitar. Terbukti teman-temanku benar-benar berasala dari berbagai kota, ada yang dari Balikpapan, Samarinda, Sangata, Pir, Muara Badak, dan yang lebih melegakan lagi tidak hanya aku saja yang dari Jawa. Paling tidak tidak hanya aku yang bahasanya “medhok” di kelas. 

Tahun-tahun awal sekolah aku masih belum bisa menerima kondisi sekolah yang katanya unggulan ini, bukan hanya karena kondisi fisiknya namun juga proses belajar mengajarnya. Karena masih kekurangan ruang kelas, maka kami yang kelas satu harus masuk siang. Sungguh tidak nyaman bagiku belajar di siang hari dengan kondisi yang selalu panas. Lokasi sekolah yang tidak dilewati kendaraan umum membuat kami harus berjalan kaki di siang bolong sejauh hamper dua kilo meter. Jika beruntung kami dapat tebengan dari pengendara mobil maupun motor yang lewat di jalan itu. Tidak heran temen-temen sering menyebut kepanjangan STM adalah Sekolah Tebeng Menebeng. 

Aku juga dipusingkan dengan cara ngajar beberapa guru yang “unik”. Ada salah seorang guru sejarah yang cara ngajarnya unik, yang dijelaskan di depan kelas mungkin lebih cocok disebut pelajaran “melawak”. Bahkan soal ulangannyapun juga unik, ada soal yang menanyakan “berapa kedalaman Sungai Gangga? Berapa jumlah ikannya? Siapa pak RT-nya? Dan berbagai pertanyaan absurd lainnya. Saya sempat melaporkan ke wali kelas kami soal ini, tapi wali kelas kami hanya tersenyum penuh arti. Belakangan baru saya ketahui wali kelasku ternyata istri dari guru “unik” tadi. 

Entahlah mungkin karena buntu harus melapor ke siapa, aku pernah berbuat nekat. Saat ujian semester aku nekat memasukkan soal ujian yang dibagikan ke laci tanpa melihat isi soalnya, yang kulihat hanya berapa jumlah soal tersebut. Karena semua soal adalah pilihan ganda aku langsung mengisi lembar jawab secepat mungkin. Hingga tidak ada lima menit aku keluar kelas sambil membawa soal tadi. Semua teman-temanku kaget melihatku cepat sekali keluar, padahal itu adalah mata pelajaran tersulit bagi kami. Aku membawa soal itu ke ruang guru, kudatangi guru mata pelajaran itu di mejanya. Kuletakkan soal itu di meja kerjanya. Kuminta dia mengerjakan beberapa soal yang ada di situ saat itu juga. Karena kami tidak pernah tahu cara mengerjakan yang benar seperti apa, dia tidak pernah memberi contoh maupun membahas soal-soal latihan yang diberikannya. Itulah yang membuat kami merasa mata pelajaran ini yang paling susah, karena tidak pernah ada contohnya. Namun beliau terus mengelak dan beralasan harus pergi karena ada keperluan. 

Selain ada guru-guru yang unik, ternyata masih ada guru-guru yang hebat kutemui. Akupun juga sangat nyaman dengan teman-temanku, terlebih teman-teman di organisasi ROHIS. Di sinilah aku mulai belajar terlibat berorganisasi. Belajar memperbaiki bacaan Quran, belajar menterjemahkan Quran, dan belajar mengadakan acara-acara keagamaan. Selain di sekolah di masjid dekat rumah aku juga mulai terlibat di kegiatan Ikatan Remaja Masjid (IRMA). Anak kampung yang medok ini mulai berani tampil di depan. Aku yang dulu sering dibully karena bau jamu dan tangannya berwarna kunig karena sering menumbuk kunyit jadi lebih PeDe. Hingga rasanya berat banget saat harus meninggalkan Bontang untuk kuliah ke Jawa. Sehingga aku lebih memilih kuliah di tanah kelahiranku, Samarinda. 

Untuk keempat kalinya aku kembali ke Bontang, kali ini aku kembali ke Bontang untuk bekerja. Sebenarnya saya masih ragu ketika memutuskan untuk bekerja karena baru sembilan bulan aku kuliah. Saat mengumpulkan berkas lamaranpun sebenarnya hanya karena menemani teman yang dari Balikpapan, karena dia menginap di rumahku. Namun saat ada paggilan tes yang pertama kali, niatkupun untuk uji coba saja. Karena ini adalah perusahaan besar yang terkenal sulit tes masuknya. Hitung-hitung ngetes kemampuan langsung dan gratis. Perasaan bingung juga menghantui saat ada panggilan medical test. Aku sedikit trauma saat mengikuti tes kesehatan ini.



Tulisan ini belum selesai sesuai maindweb yang kubuat.... semoga bisa melanjutkannya...

Read More ..

19 Juni 2008

Strategi Meningkatkan Kualitas

Bagaimana meningkatkan kualitas hidup kita?
Kebanyakan orang sangat bersemangat meningkatkan suatu hal (misalnya kesehatan, ibadah, penghasilan, ilmu, dsb) dengan serta merta. Dalam jangka pendek hasilnya mulai terlihat, namun tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian menjadi loyo dan kembali kepada keadaan semula.
Dalam industri manufaktur telah diteliti bahwa cara terbaik meningkatkan kualitas adalah dengan membuat kondisi menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya ingin mengurangi cacat produk, maka hal pertama yang dilakukan adalah membuat agar jumlah cacat dari waktu ke waktu menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya, cacat produksi terkadang 2 persen, lalu di lain waktu 10 persen, kemudian 3 persen, dst. Ini adalah kondisi tidak stabil. Maka dicari terlebih dahulu kondisi kestabilan, misalnya stabil cacat 10 persen! Walau cacatnya cukup banyak, asalkan sudah stabil di angka tersebut berarti proses produksi sudah stabil. Bila proses produksi sudah stabil (berlangsung tetap, konsisten, bisa dikontrol), barulah dilakukan peningkatan kualitas misalnya cacat dikurangi hingga 8 persen.
Jadi strategi peningkatan kualitas dimulai dari melakukan stabilisasi, yang berarti adalah membuat proses menjadi terkontrol.

Bagaimana cara meningkatkan kualitas hidup kita. Gunakan strategi yang sama : stabilkan dulu, baru tingkatkan.
Misalnya kita ingin meningkatkan kualitas ibadah, shalat misalnya. Biasanya kita rajin di bulan Ramadhan, lalu mendadak loyo sesaat setelah Lebaran. Ini karena belum mencapai kondisi stabil. Bagaimana cara menstabilkan? Beribadahlah secara sederhana, secukupnya, namun konsisten! Itulah yang disebut stabil. Misalnya mula-mula shalat lima waktu dengan teratur, secukupnya. Yang penting teratur dulu. Setelah kondisi tersebut berjalan lama, barulah mulai ditambah, misalnya shalat dhuha, atau shalat sunnat setelah shalat wajib. Lakukan secara sederhana hingga menjadi terbiasa, barulah tambah shalat tahajud, misalnya, dan seterusnya.
Menurut penelitian, kabarnya sesuatu akan menjadi kebiasaan setelah dikerjakan minimal 6 MINGGU (1,5 bulan) lamanya. Jadi, prinsip menstabilkan kondisi adalah melakukan PENGULANGAN hingga paling tidak 6 minggu secara berturut-turut. Awalnya biasanya berat, karena setiap hal pada dasarnya lembam, susah berubah. Namun setelah kita mencapai kondisi stabil, biasanya lebih mudah bertahan, karena kita berada dalam kelembaman baru. Mereka yang sudah biasa shalat 5 waktu, pasti merasa gelisah bila luput shalat. Mereka yang sudah biasa tahajud, pasti merasa tak nyaman ketika luput tahajud.
Demikian pula dengan kesehatan, cara terbaik adalah melakukan olahraga yang disukai (mulai dari yang ringan dan gembira) selama 6 minggu berturut-turut. Setelah menjadi kebiasaan, semuanya akan berjalan ringan.
Bagaimana dengan keuangan? Sama saja. Kalau saat ini keuangan terasa sulit, mungkin karena ada pola belanja yang tidak teratur. Anggaran bulanan berubah-ubah secara mendadak karena keinginan sesaat (impuls buying). Ada tawaran anu, langsung beli. Ada iming-iming diskon, langsung borong, dsb. Maka langkah awal adalah menstabilkan. Misalnya membuat pola belanja yang teratur melalui alokasi anggaran (budgeting) Bagaimana kalau ternyata masih tekor juga? Bila ‘sudah teratur’ tekornya, berarti sudah mulai bisa dikontrol! Artinya secara jelas bisa dievaluasi berapa pengeluaran untuk ini dan itu. Dari evaluasi itu barulah ditingkatkan kualitas pengelolaan keuangan, misalnya dengan mengutamakan pengeluaran pada kebutuhan dasar. Pelan namun pasti selanjutnya kebiasaan jajan dikurangi, kemudian alokasi menabung ditingkatkan, dan seterusnya pengeluaran dikelola menjadi semakin baik.
Intinya : stabilkan dulu, baru tingkatkan. Hal ini berlaku pada semua bidang kehidupan.
From: http://sepia.blogsome.com


Read More ..

21 Mei 2008

Melejitkan Potensi Diri

Manusia diciptakan sebagai makhluk mulia, dan terbaik (sebaik-baik ciptaan), dengan dibekali berbagai macam potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Namun terkadang, kita tidak sadar bahkan tidak tahu sama sekali apa potensi kita sebagai makhluk Allah. Sehingga terkadang kita sama saja seperti hewan, atau bahkan lebih hina. Kita terhina karena kita tidak mau belajar. Sekarang yuk sama-sama kita belajar…!!!
Sebelum lebih jauh “berjalan”, YAKINKAN diri Anda bahwa Anda mempunyai kelebihan, punya potensi, dan bahkan sesuatu yang unik yang tidak dimiliki oleh orang lain. OK, Anda sudah meyakinkan diri Anda ?
Tiga potensi pokok manusia ada 3, yaitu potensi akal pikiran, tubuh, dan hati. Ketiganya mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, dan untuk bisa menjalankan fungsinya tersebut, ketiganya harus dipenuhi haknya. Akal diberi makan dengan mempelajari pengetahuan baru, membaca, berpikir, dan meningkatkan kualitas belajar. Hak untuk tubuh adalah istirahat, makan-minum, berolahraga, dan nutrisi yang seimbang. Sedangkan hati akan terpenuhi kebutuhannya dengan berdzikir (mengingat Allah), mendengarkan nasihat atau ceramah, shalat, membaca ayat-ayat suci, dan kegiatan lainya yang bisa mendekatkan diri dengan Pencipta kita.
Pemenuhan hak atas ketiga potensi pokok itu harus seimbang, tidak boleh over dosis pada salah satu potensi saja. Contoh pemenuhan kebutuhan yang berlebihan pada satu potensi saja adalah, akal: akan menjadi orang yang amat sangat rasional. Segala sesuatu yang tidak masuk akal, maka akan ditentangnya. Tubuh (Fisik): akan menjadi orang yang mengagung-agungkan penampilan fisik. Tubuh yang bagus, penampilan yang mentereng adalah segala-galanya. Tak peduli apakah otaknya isi atau tidak, hatinya bersih atau kotor, yang penting penampilan OK. Sedang yang terakhir, adalah orang yang HANYA mengagungkan kondisi hati saja. Dia akan cenderung mengasingkan diri dari dunianya, bahkan benar-benar lupa akan dunia. Dia akan kehilangan kesadaran sosialnya sebagai anggota masyarakat, sehingga tidak peduli dengan konsisi di sekitarnya.
Prinsip keseimbangan (tawazun) sangat diperlukan dalam memperlakukan ketiga fungsi tadi. Ketika berlebihan dalam satu hal, maka akan terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupannya.
Kenali Diri…..
Tak Kenal Maka Tak Sayang…., ungkapan itu sepertinya masih sangat relevan untuk bisa melejitkan potensi diri kita. Salah satu modal kita dalam menjalani kehidupan ini adalah dengan bermodalkan energi kasih sayang. Tetapi bagaimana mungkin kita bisa menyayangi diri kita, kalau kita tidak mengenal diri kita.
Pernahkah Anda merenungkan siapa sebenarnya diri Anda ? Apa kelemahan dan kekurangan Anda ? Bagaimana sikap hidup Anda? Pernahkan Anda juga berpikir, dari mana Anda, hendak kemana Anda, dan untuk apa Anda hidup di dunia ini ?
Mengenali diri bisa dari hal-hal yang kecil, baru kemudian bertahap kepada sesuatu yang sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Dalam kedudukan Anda sebagai mahasiswa, mengenali diri bisa dimulai dari bagaimana kita belajar. Ketahuilah bagaimana Anda mengolah informasi atau yang biasa disebut sebagai Modalitas Belajar. Manusia dianugerahi 3 modalitas belajar yaitu Visual, Auditory, dan Kinestetik. Setiap orang mempunyai 3 potensi tersebut, namun biasanya mereka akan ada yang dominan. Orang yang dominan Visual, dia akan mudah belajar dengan menggunakan gambar, grafik, penggunaan warna, dan icon-icon yang menarik. Orang Auditory akan mudah belajar dengan mendengarkan, biasanya akan lebih asyik jika sambil mendengarkan musik, dan biasanya orang auditory akan membaca dengan keras-keras. Yang terakhir, adalah orang kinestetik. Orang kinestetik belajar dengan melakukan, menyentuh langsung, praktek, dan biasanya orang kinestetik itu tidak bisa duduk manis, dia akan selalu bergerak dan bergerak.
Kenali potensi yang selanjutnya adalah mengenali kecerdasan Anda. Howard Gardner membagi kecerdasan menjadi 8, yang biasa disebut dengan kecerdasan berganda, kecerdasan majemuk. Kedelapan kecerdasan itu adalah:
• Spasial-Visual (berpikir dengan citra dan dambar)
• Linguistik-Verbal (Berpikir dalam kata-kata)
• Interpersonal (berpikir lewat berkomunikasi dengan orang lain)
• Musikal-Ritmik (berpikir dalam irama dan melodi)
• Naturalis (berpikir dalam acuan alam)
• Badan-Kinestetik (berpikir melalui sensasi dan gerakan fisik)
• Intrapersonal (berpikir secara reflektif)
• Logis-Matematis (berpikir dengan penalaran)
Masih banyak alat (instrumen) dalam mengenali diri, Anda dapat membacanya di beberapa buku. Termasuk melalui teman-teman Anda. Ada beberapa trik dalam mengenali diri, seseorang dapat mengenali diri (lebih khusus ke evaluasi diri) dengan melaui empat tahapan:
1. Duduk bersama pada syaikh, ustadz, orang-orang bijak, yang akan menunjukkan aib-aib kita, memberikan tausiah (nasihat) dan taujih (pengarahan).
2. Mendatangi sahabat-sahabat yang shalih dan jujur agar mendapatkan pengetahuan agama yang lebih luas lagi.
3. Bacalah aib diri dari cercaan “musuh” pada diri kita.
4. Berinteraksi dengan setiap golongan manusia. Maka tatkala menyaksikan kejahatan yang ada dalam masyarakat, Jauhilah!
Berdayakan Diri….
Setelah Anda mengetahui, kelebihan dan kekurangan Anda, sekarang cobalah berdayakan kelebihan dan potensi Anda. Minimalkan kekurangan dan kelemahan Anda dengan terus memperbaiki diri (continuous improvement-istimrorul ihsan), terus dan terus belajar (Lifetime Learning), dan cobalah beberapa langkah berikut:
1. Lakukan Analisis SWOT (Strength Weakness Opportunity Threat)
2. Bangun Tekad dan Azam yang Kuat
3. Proaktif Memanfaatkan Momen Pembelajaran (tarbiyah)
4. Susun Jadwal Pembelajaran
5. Yakinkan Diri untuk Istiqomah
6. Efektif dan Efesien terhadap Waktu
7. Curahan Seluruh Kemampuan
8. Gunakan Setiap Kesempatan
9. Kreatif dan Inovatif
10. Dayagunakan Orang Lain
11. Berpikir di Luar Ruang (Out of Box Thingking)
12. Cermat dalam Memanfaatkan Peluang
13. Selalu Instropeksi ke Dalam
14. Hadiri Majelis Ilmiah dan Ruhiyah
15. Lingkungan Keluarga sebagai Laborat.
16. Jadikan Menulis Sebagai kebutuhan.
Menyikapi Perubahan….
Perubahan akan dan terus terjadi. Jika kita tidak siap menghadapi perubahan, maka kita sendiri yang akan dilibas oleh perubahan. Ada beberapa sikap yang harus dimiliki dalam menyikapi perubahan, yaitu:
1. Kita harus menerima apapun situasi atau krisis yang melanda kita. Kita tidak perlu melawan perubahan tersebut. Pada kondisi seperti ini, yang terpenting adalah kita tahu cara mengendalikan stress.
2. Senantiasa berharap dan memiliki keyakinan kuat bahwa segala sesuatu ada waktunya. Badai Pasti Berlalu…..(kata Chrisye)
3. Fokus pada kekuatan dan peluang bukanya pada kelemahan atau musibah yang kita hadapi. Sikap ini menuntun kita untuk dapat mengatasi ek ketakutan dan bergerak keluar dari zona depresif menuju kearah yang kita inginkan.
4. Kita harus punya kemauan untuk belajar dari pengalaman mereka yang pernah mengalami krisis atau musibah.
5. Mengembangkan rasa syukur atas musibah yang kita alami.
6. Mengembangkan sikap aktif dalam mengambil bagian untuk mengatasi krisis dan mengendalikan perubahan yang terjadi.
Sebagai penutup akan saya sampaikan, inti dari bagaimana melejitkan potensi diri adalah SEMANGAT TIADA HENTI UNTUK TERUS MENYEMPURNAKAN KUALITAS DIRI DENGAN BELAJAR DAN BELAJAR, DIMANAPUN DAN KAPANPUN.
Wallahu a’lam.

By Anjas
From Rumah Belajar Indonesia

Read More ..

10 Mei 2008

Sebuah koin penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.

Read More ..

12 April 2008

Hidup Ini Sederhana

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

* Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil untuk kerja di tempatnya.

* Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik."
Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."

* Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."
Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."

* Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih golf berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?"
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana ."

* Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

* Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

“YANG PALING PENTING, HIDUP INI HARUS BERMANFAAT BUAT ORANG LAIN.”

Read More ..